inovasi daerah
TEBU DIGILAS Buka Akses Buku Digital dan Bangun Budaya Literasi di SDN Pajangan
Oleh Administrator
•
14 August 2026
TEBU DIGILAS Buka Akses Buku Digital dan Bangun Budaya Literasi di SDN Pajangan (Foto: Dokumentasi asli yang digunakan pada publikasi TEBU DIGITAL/TEBU DIGILAS di laman Berita RISDA Kabupaten Lamongan. Sumber: RISDA Kabupaten Lamongan.)
TEBU DIGILAS menghadirkan literasi digital yang lebih menarik melalui bacaan interaktif, microlearning, gamifikasi, dan akses berbasis perangkat sederhana. Inovasi ini membantu siswa meningkatkan minat baca, kemampuan literasi digital, serta keterampilan mencari dan menilai informasi secara kritis, sekaligus memperluas budaya membaca dari sekolah hingga lingkungan keluarga.
Lamongan – SD Negeri Pajangan, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan, mengembangkan inovasi TEBU DIGILAS (Teman Buku Digital Langsung) sebagai upaya membangun kembali minat baca siswa melalui pemanfaatan teknologi digital. Program ini lahir dari kondisi perpustakaan sekolah yang semakin kurang diminati, koleksi bacaan yang terbatas, serta kebiasaan siswa menggunakan perangkat digital lebih banyak untuk hiburan. Melalui TEBU DIGILAS, ponsel, tablet, dan komputer diarahkan menjadi sarana untuk mengakses bacaan edukatif secara lebih mudah dan fleksibel. Pendekatan tersebut menjadikan teknologi sebagai jembatan antara budaya membaca dan kebutuhan belajar generasi digital.
Pedoman teknis mencatat bahwa sekitar 90 persen siswa kelas IV sampai VI memiliki akses terhadap ponsel pintar milik orang tua. Kondisi tersebut menjadi peluang untuk menghadirkan layanan literasi yang tidak bergantung sepenuhnya pada buku fisik maupun ruang perpustakaan. TEBU DIGILAS dirancang agar dapat diakses menggunakan perangkat dengan spesifikasi rendah dan konsumsi data yang minim. Dengan demikian, siswa dapat membaca kapan saja dan di mana saja tanpa harus menunggu jadwal kunjungan perpustakaan sekolah.
Kebaruan TEBU DIGILAS tidak hanya terletak pada perubahan buku fisik menjadi format digital, tetapi pada pengalaman membaca yang disesuaikan dengan karakter generasi digital native. Konten dirancang menggunakan prinsip microlearning dengan durasi singkat, visual menarik, serta elemen interaktif. Sistem gamifikasi melalui badge, level, leaderboard kelas, dan penghargaan Duta Baca Digital digunakan untuk membangun motivasi membaca. Siswa juga dapat terlibat dalam diskusi buku, membuat resensi digital, merekam bacaan, dan menampilkan karya melalui galeri berbasis QR code.
Program ini dikembangkan sebagai platform literasi digital yang inklusif. Pedoman teknis menyebutkan dukungan teknologi web progresif atau PWA yang ringan, mode akses sederhana melalui browser, serta penghematan kuota internet dengan kebutuhan data rata-rata sekitar 5 MB per sesi. Materi bacaan dikelompokkan sesuai tingkat kesulitan dan minat siswa, termasuk cerita rakyat serta konten lokal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini membantu siswa tidak hanya membaca, tetapi juga belajar menilai informasi secara kritis dan bertanggung jawab.
Publikasi RISDA Kabupaten Lamongan menyebut program diimplementasikan mulai Januari 2025 setelah melalui uji coba pada Juni 2024. Kegiatan TEBU DIGILAS mencakup pembentukan Pojok Digital Literasi di sekolah yang dilengkapi perangkat untuk mengakses bacaan digital, serta pelatihan literasi digital ringan bagi siswa dan guru. Program melibatkan siswa kelas I hingga VI, guru, dan orang tua sebagai bagian dari ekosistem literasi sekolah. Kolaborasi ini memperluas kebiasaan membaca dari lingkungan sekolah hingga rumah.
Desain inovasi juga mengintegrasikan literasi digital dengan pembelajaran formal. Modul literasi dapat dihubungkan dengan mata pelajaran inti, bank soal berbasis kasus nyata, proyek kreatif membuat resensi digital, serta portofolio perkembangan kemampuan siswa. Guru dapat memantau aktivitas membaca melalui mekanisme evaluasi dan umpan balik, sementara siswa memperoleh rekomendasi bacaan sesuai kemampuan. Pola tersebut membuat aktivitas membaca menjadi lebih terarah dan terhubung dengan tujuan pembelajaran.
TEBU DIGILAS dikembangkan dengan pendekatan cepat dan adaptif. Pedoman teknis menjelaskan bahwa konten konvensional dapat dikonversi ke format digital interaktif dalam waktu sekitar dua minggu, sementara pelatihan dasar bagi guru dan siswa dilakukan melalui workshop intensif selama tiga hari. Dalam tiga bulan pertama, program telah melalui empat siklus penyempurnaan berdasarkan umpan balik pengguna. Model pengembangan seperti ini membuat inovasi dapat segera diuji, diperbaiki, dan disesuaikan dengan kebutuhan nyata di sekolah.
Melalui TEBU DIGILAS, SD Negeri Pajangan berupaya membangun ekosistem literasi yang lebih inklusif, relevan, dan berkelanjutan. Siswa tidak hanya memperoleh akses terhadap lebih banyak bahan bacaan, tetapi juga belajar mencari, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi digital secara kritis. Sekolah juga memperkuat perannya sebagai pusat literasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dengan evaluasi rutin, penambahan koleksi digital, dan dukungan orang tua serta komunitas, TEBU DIGILAS diharapkan menjadi praktik baik yang membantu membentuk pembelajar mandiri dan cakap digital di Kabupaten Lamongan.
TAGS:
#inovasi daerah