inovasi daerah
SETIBA DI TEGAL Satukan Tiga Bahasa dan Literasi Digital untuk Bangun Siswa Komunikatif di SDN 3 Geger
Oleh Administrator
•
14 August 2026
SETIBA DI TEGAL Satukan Tiga Bahasa dan Literasi Digital untuk Bangun Siswa Komunikatif di SDN 3 Geger (Foto: Dokumentasi Internal)
SETIBA DI TEGAL menguatkan kemampuan Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Bahasa Inggris melalui kegiatan literasi digital rutin setiap hari Selasa. Dengan dukungan QR code, kuis, media interaktif, serta aktivitas membaca, menulis, dan berdiskusi, inovasi ini membantu siswa menjadi lebih komunikatif, percaya diri, cinta budaya lokal, dan cakap memanfaatkan teknologi secara positif.
Lamongan – SD Negeri 3 Geger Kabupaten Lamongan mengembangkan inovasi SETIBA DI TEGAL (Selasa Tiga Bahasa dengan Literasi Digital) sebagai upaya memperkuat kemampuan berbahasa sekaligus kecakapan digital peserta didik sejak sekolah dasar. Program ini mengintegrasikan Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Bahasa Inggris ke dalam kegiatan literasi rutin setiap hari Selasa. Pembelajaran dikemas melalui cerita, diskusi, kuis, latihan kosakata, dan media digital agar siswa tidak hanya mengenal kata baru, tetapi mampu menggunakannya dalam konteks sehari-hari. Melalui pendekatan tersebut, sekolah berupaya membangun budaya belajar yang komunikatif, kreatif, dan relevan dengan perkembangan teknologi.
SETIBA DI TEGAL lahir dari kebutuhan meningkatkan minat baca siswa sekaligus memperluas penguasaan kosakata dalam berbagai bahasa. Sekolah melihat bahwa penggunaan gawai pada anak belum seluruhnya diarahkan untuk kegiatan produktif dan edukatif. Kondisi tersebut mendorong guru menghadirkan pembelajaran yang memadukan literasi bahasa dengan pemanfaatan teknologi secara positif. Program kemudian dikembangkan sebagai rutinitas sekolah yang menyenangkan, kontekstual, dan tidak membebani peserta didik.
Salah satu ciri utama inovasi adalah penggunaan tiga bahasa dalam satu kegiatan tematik. Bahasa Indonesia digunakan untuk memperkuat kemampuan literasi nasional, Bahasa Jawa dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya lokal, sedangkan Bahasa Inggris dikenalkan sebagai bekal komunikasi global. Siswa diajak membaca, menulis, menyusun kalimat, berdiskusi, dan mempresentasikan pemahamannya menggunakan kosakata yang telah dipelajari. Pola ini membuat pembelajaran bahasa yang biasanya terpisah menjadi lebih terpadu dan aplikatif.
Literasi digital menjadi unsur penting dalam pelaksanaan program. Siswa dapat menggunakan barcode atau QR code untuk mengakses kosakata, menyimak video pembelajaran, dan mengikuti kuis digital. Media seperti Canva for Education dan Assemblr Edu juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas belajar yang lebih visual dan interaktif. Dengan cara tersebut, penggunaan teknologi diarahkan untuk eksplorasi informasi, kreativitas, dan pembelajaran, bukan hanya hiburan pasif.
Pelaksanaan SETIBA DI TEGAL menyasar seluruh siswa kelas I hingga kelas VI dengan kegiatan yang disesuaikan berdasarkan jenjang usia dan kemampuan. Agenda dapat diawali dengan pembukaan dan ice breaking, dilanjutkan kegiatan Gelas Canting atau Gebyar Literasi Cegah Stunting, Literasi Goes to School apabila tersedia layanan pustaka keliling, Papan Bahasa Tiga Bahasa, dan ditutup dengan refleksi 3R yaitu Reflektif, Responsif, dan Aktif. Guru bertindak sebagai fasilitator yang mendampingi siswa agar terlibat aktif selama kegiatan. Desain tersebut membuat proses literasi menjadi lebih fleksibel dan menyenangkan.
Kebaruan SETIBA DI TEGAL terletak pada perpaduan budaya lokal, bahasa nasional, bahasa internasional, dan teknologi digital dalam satu kegiatan mingguan. Siswa tidak hanya memperoleh pengalaman membaca dan menulis, tetapi juga dilatih berpikir kritis, bekerja sama, berkomunikasi, dan berani menyampaikan pendapat. Bahasa Jawa tetap mendapat ruang sebagai bagian dari pelestarian budaya, sementara teknologi membantu siswa menyesuaikan diri dengan kebutuhan keterampilan abad ke-21. Kombinasi ini menjadikan program relevan bagi sekolah dasar di tengah perubahan pola belajar generasi digital.
Evaluasi dilakukan melalui pengamatan terhadap pemahaman siswa, sikap selama kegiatan, serta hasil karya yang dihasilkan. Foto, video, dan portofolio siswa dapat digunakan sebagai dokumentasi perkembangan program, sedangkan refleksi guru menjadi dasar untuk menyempurnakan materi dan metode pada pertemuan berikutnya. Keterlibatan kepala sekolah, guru, orang tua, dan komunitas literasi juga memperkuat keberlanjutan program. Dengan evaluasi yang dilakukan secara rutin, kegiatan dapat terus disesuaikan dengan kebutuhan dan respons peserta didik.
Melalui SETIBA DI TEGAL, SD Negeri 3 Geger berupaya membentuk siswa yang lebih komunikatif, percaya diri, cinta budaya lokal, serta mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. Program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan membaca, menulis, dan berbicara, tetapi juga mendorong terbentuknya lingkungan sekolah yang literat, kreatif, dan adaptif. Pembiasaan setiap hari Selasa diharapkan menjadikan literasi sebagai bagian alami dari kehidupan sekolah. Dengan dukungan seluruh warga sekolah, SETIBA DI TEGAL berpotensi menjadi praktik baik yang dapat dikembangkan dan direplikasi oleh sekolah lain di Kabupaten Lamongan.
TAGS:
#inovasi daerah