inovasi daerah
PETRA Hidupkan Kembali Permainan Tradisional untuk Generasi Digital di SDN Pangkatrejo
Oleh Administrator
•
15 August 2026
PETRA Hidupkan Kembali Permainan Tradisional untuk Generasi Digital di SDN Pangkatrejo (Foto: Dokumentasi asli kegiatan PETRA yang digunakan pada publikasi Berita RISDA Kabupaten Lamongan. Sumber: RISDA Kabupaten Lamongan.)
PETRA menghidupkan kembali permainan tradisional seperti egrang, congklak, kelereng, lompat tali, bakiak, dan bola bekel sebagai bagian dari pembelajaran di SD Negeri Pangkatrejo. Inovasi ini membantu mengurangi ketergantungan pada gawai sekaligus meningkatkan aktivitas fisik, kerja sama, kreativitas, keterampilan sosial, serta kecintaan siswa terhadap budaya lokal.
Lamongan – SD Negeri Pangkatrejo, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan, mengembangkan inovasi PETRA (Permainan Tradisional di Era Digitalisasi) sebagai upaya menghadirkan kembali permainan tradisional di tengah kuatnya dominasi gawai dan permainan digital. Program ini mengintegrasikan permainan seperti egrang, congklak, kelereng, lompat tali, bakiak, dan bola bekel ke dalam kegiatan sekolah. PETRA sekaligus menjadi bagian dari penguatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dengan fokus pada kearifan lokal. Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak bergerak aktif, berinteraksi, bekerja sama, dan mengenal kembali warisan budaya Indonesia.
Latar belakang PETRA berangkat dari kekhawatiran terhadap berkurangnya aktivitas fisik dan interaksi sosial anak akibat penggunaan gawai yang semakin dominan. Pedoman teknis mencatat bahwa lebih dari 35 persen anak usia sekolah mengalami penurunan aktivitas fisik akibat dominasi penggunaan gawai. Kondisi ini bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga menjauhkan anak dari nilai-nilai lokal yang diwariskan melalui permainan tradisional. Karena itu, sekolah memilih pendekatan yang sederhana, murah, dan dekat dengan kehidupan masyarakat untuk membangun kembali kebiasaan bermain aktif.
Permainan tradisional dalam PETRA dipilih karena memiliki fungsi pendidikan yang beragam. Egrang dan bakiak melatih keseimbangan serta koordinasi tubuh, lompat tali meningkatkan aktivitas motorik kasar, sementara congklak dan kelereng mengasah strategi, ketelitian, dan kemampuan berhitung. Permainan berkelompok juga membantu siswa belajar bekerja sama, bernegosiasi, mematuhi aturan, dan menerima hasil permainan dengan sportif. Dengan demikian, kegiatan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga media pembelajaran karakter dan keterampilan sosial.
Kebaruan PETRA terletak pada upaya menjadikan permainan tradisional sebagai media pedagogik yang relevan di era digital. Program ini tidak menolak teknologi, tetapi menyeimbangkannya dengan aktivitas fisik dan sosial berbasis budaya lokal. Siswa juga dapat mendokumentasikan permainan tradisional dalam bentuk video pendek atau karya digital sehingga budaya lama tetap dapat dikemas dengan pendekatan modern. Cara tersebut membuat pelestarian budaya lebih dekat dengan karakter generasi masa kini.
Pelaksanaan PETRA melibatkan seluruh siswa SDN Pangkatrejo dan mendapat dukungan guru, komite sekolah, serta wali murid. Publikasi RISDA Kabupaten Lamongan mencatat kegiatan dilaksanakan setiap Jumat pertama setiap bulan pada pukul 07.00–07.30 WIB di halaman sekolah. Wali murid turut mendukung pengadaan alat permainan secara swadaya, sementara guru mengarahkan kegiatan agar tetap aman, edukatif, dan sesuai tujuan pembelajaran. Kolaborasi tersebut memperkuat posisi PETRA sebagai program sekolah yang berbasis partisipasi komunitas.
Selain meningkatkan aktivitas fisik, PETRA memberi manfaat pada perkembangan sosial-emosional siswa. Anak-anak terbiasa berkomunikasi secara langsung, belajar bekerja dalam tim, membangun rasa percaya diri, serta menyelesaikan konflik sederhana selama permainan. Kegiatan ini juga memberikan alternatif hiburan sehat bagi siswa di luar penggunaan gawai. Interaksi antargenerasi dapat terbangun ketika orang tua mengenalkan kembali permainan masa kecil mereka kepada anak-anak.
Publikasi RISDA Kabupaten Lamongan pada 16 Juli 2025 menyoroti PETRA sebagai upaya menghidupkan kembali permainan tradisional di era digital. RISDA mencatat program telah dilaksanakan sejak Oktober 2024 setelah melalui uji coba pada September 2024. Kegiatan melibatkan permainan egrang, congklak, bakiak, lompat tali karet, kelereng, dan bola bekel untuk melatih koordinasi fisik, keseimbangan, strategi, serta kerja sama tim. Hasil pelaksanaan menunjukkan peningkatan pada aspek kesehatan fisik, kreativitas, jiwa nasionalisme, dan hubungan sosial antarsiswa.
Melalui PETRA, SD Negeri Pangkatrejo menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui kegiatan yang sederhana namun bermakna. Permainan tradisional dihadirkan bukan sekadar sebagai nostalgia, tetapi sebagai sarana membangun karakter, kesehatan, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya bangsa. Program ini juga memperlihatkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus berbasis teknologi tinggi. Dengan dukungan sekolah, keluarga, dan komunitas, PETRA diharapkan terus berkembang sebagai praktik baik yang dapat direplikasi oleh sekolah lain di Kabupaten Lamongan.
TAGS:
#inovasi daerah