KUMIS MANJA Perluas Akses Informasi Kesehatan Lewat Media Sosial di Puskesmas Mangunjaya
KUMIS MANJA Perluas Akses Informasi Kesehatan Lewat Media Sosial di Puskesmas Mangunjaya (Foto: Ilustrasi dokumentasi pemanfaatan Instagram oleh puskesmas untuk menyebarluaskan informasi dan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Foto pendukung ini bukan dokumentasi KUMIS MANJA. Sumber: UPTD Puskesmas II Dinas Kesehatan Kecamatan Denpasar Barat.)
Bekasi – UPTD Puskesmas Mangunjaya, Kabupaten Bekasi, mengembangkan KUMIS MANJA atau Kumpulan Media Informasi Kesehatan Puskesmas Mangunjaya sebagai sarana penyebarluasan informasi kesehatan yang lebih cepat dan mudah dijangkau masyarakat. Inovasi ini memanfaatkan teknologi informasi dan media sosial untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan sekaligus pembinaan kader di wilayah kerja puskesmas.
Bekasi – UPTD Puskesmas Mangunjaya, Kabupaten Bekasi, mengembangkan
KUMIS MANJA atau Kumpulan Media Informasi Kesehatan Puskesmas Mangunjaya
sebagai sarana penyebarluasan informasi kesehatan yang lebih cepat dan mudah
dijangkau masyarakat. Inovasi ini memanfaatkan teknologi informasi dan media
sosial untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan sekaligus pembinaan kader di
wilayah kerja puskesmas. Sebelum sistem ini dikembangkan, penyampaian informasi
masih menghadapi kendala berupa jangkauan yang terbatas, penyebaran materi yang
belum terintegrasi, serta dokumentasi yang belum tertata optimal. KUMIS MANJA
kemudian dirancang agar informasi kesehatan dapat diterima masyarakat secara
lebih seragam, tepat waktu, dan berkesinambungan.
Materi KUMIS MANJA tidak hanya berisi pengumuman layanan, tetapi juga
edukasi promotif dan preventif yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Informasi yang disiapkan mencakup perilaku hidup bersih dan sehat, pencegahan
penyakit, kesehatan ibu dan anak, kesehatan keluarga, kesehatan lingkungan,
kegiatan kesehatan masyarakat, serta pembinaan kader. Setiap materi disusun
oleh petugas Promosi Kesehatan bersama penanggung jawab program dan tenaga
kesehatan terkait sebelum dilakukan verifikasi. Setelah dinyatakan sesuai,
materi dikemas dalam bentuk poster digital, infografis, foto kegiatan, video
edukasi, maupun media informasi lain yang mudah dipahami.
Penyebarluasan informasi dilakukan melalui berbagai platform yang dekat
dengan keseharian masyarakat, seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, YouTube,
dan TikTok. Pemanfaatan lebih dari satu kanal membuat masyarakat dapat memilih
media yang paling mudah mereka akses tanpa harus datang langsung ke puskesmas
hanya untuk memperoleh informasi dasar kesehatan. Kader kesehatan turut
berperan sebagai mitra dalam meneruskan materi kepada warga di lingkungan
masing-masing sehingga jangkauan informasi dapat semakin luas. Akun Instagram
resmi Puskesmas Mangunjaya juga aktif memuat informasi pelayanan dan edukasi
kesehatan, menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian dari komunikasi
publik puskesmas.
Alur KUMIS MANJA disusun secara sistematis mulai dari identifikasi
kebutuhan informasi, penyusunan materi, verifikasi, publikasi, distribusi,
dokumentasi, hingga monitoring dan evaluasi. Tahapan tersebut membuat setiap
informasi yang dipublikasikan memiliki dasar program yang jelas dan dapat
dipertanggungjawabkan. Materi yang telah tayang kemudian disimpan secara
digital sehingga dapat ditelusuri kembali dan digunakan sebagai arsip maupun
bahan evaluasi. Mekanisme ini sekaligus mengurangi ketergantungan pada
penyampaian informasi berbasis kertas dan mendukung pelayanan yang lebih
efisien.
Dalam dua tahun terakhir, penerima manfaat KUMIS MANJA tercatat lebih
dari 200 orang berdasarkan klasifikasi kemanfaatan dalam proposal inovasi.
Sasaran utamanya mencakup masyarakat dan kader kesehatan yang membutuhkan
informasi program maupun edukasi kesehatan secara rutin. Kemudahan akses
menjadi salah satu indikator penting karena informasi dapat diperoleh kapan
saja selama pengguna memiliki perangkat dan jaringan internet. Bagi kader,
sistem ini membantu memperoleh bahan pembinaan yang dapat digunakan kembali
saat memberikan edukasi kepada masyarakat.
Pelaksanaan inovasi juga dilengkapi mekanisme monitoring dan evaluasi
internal untuk melihat efektivitas dan kualitas informasi yang disampaikan.
Aspek yang dinilai antara lain jumlah materi yang dipublikasikan, frekuensi
penyampaian, jumlah kader dan masyarakat yang terjangkau, respons pengguna,
kemudahan akses, serta tingkat kepuasan. Masukan dari masyarakat dan kader
digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki jenis konten, cara penyajian, dan
platform yang digunakan. Pengelola juga dapat memanfaatkan metode sederhana
seperti Customer Effort Score untuk mengetahui seberapa mudah pengguna
memperoleh informasi melalui KUMIS MANJA.
Melalui KUMIS MANJA, Puskesmas Mangunjaya berupaya menjadikan informasi
kesehatan sebagai layanan yang tidak berhenti di ruang pelayanan, tetapi hadir
langsung di perangkat digital masyarakat. Pengelolaan yang berkelanjutan
dilakukan melalui penetapan administrator, jadwal publikasi berkala, pembaruan
materi, pelibatan seluruh program, serta optimalisasi media sosial yang paling
banyak digunakan warga. Inovasi ini diharapkan memperluas promosi kesehatan,
meningkatkan pengetahuan masyarakat dan kader, sekaligus memperkuat dokumentasi
kegiatan secara lebih terstruktur. Dengan komunikasi kesehatan yang semakin
mudah diakses, KUMIS MANJA menjadi salah satu langkah Puskesmas Mangunjaya
dalam menghadirkan pelayanan publik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.